Tuesday, May 17, 2016

Gangguan Seksual Terhadap Objek Non-Seksual




Wanita kerap dipersepsi sebagai objek seksual. Hal yang bikin repot bukan wanita sebagai objek seksual, tetapi objek yang tidak biasa. Apa itu?

Studi gangguan perilakuseksual pada dasarnya berpendapat, apa saja bisa menjadi sumber erotik. Mulai dari pakaian dalam, sepatu wanita, bau parfum hingga kotoran manusia, bisa merangsang orang-orang tertentu secara seksual. Demikian pula mayat, binatang, hingga kanak-kanak, juga bisa memunculkan pikiran ngeres.

Dalam hal ini, yang bermasalah tentulah orang tersebut, bukan objeknya. Contoh-contoh itu juga jauh dari sebutan objek seksual yang konvensional (seperti, mohon maaf, wanita).

Secara psikologis, orang tersebut dikenal sebagai pengidap gangguan seksual (sexual behavior disorder), yang memiliki berbagai varian penyebab serta varian akibat ikutannya.

Jika sekarang ini orang heboh dengan kasus-kasus perkosaan, khususnya kasus yang ekstrem di mana korban diperkosa ramai-ramai dan kemudian dibunuh, maka sebenarnya permasalahan yang lebih besar dan serius adalah gangguan perilaku seksual seperti diuraikan di atas.

Betapa tidak serius, kalau diperkirakan dewasa ini ada sekitar dua puluhan ribu orang Indonesia yang menjadi penderitanya. Angka itu berasal dari asumsi 1 per mil penderita yang diasumsikan selalu ada pada setiap populasi.

Jika saja semua dari mereka aktif mencari korban anak, misalnya, bisa dibayangkan kehebohan yang muncul. 

Masalahnya, gangguan ini tidak banyak diperhatikan orang. Kalaupun diperhatikan, lebih kepada soal objek yang aneh-aneh serta imajinasi liar dari kita sendiri. Padahal, sekali lagi, situasinya tak kalah atau bahkan lebih seram dibanding pemerkosaan sekalipun.

Perhatikan bahwa bagi anak yang menjadi korban gangguan seksual ini, sebenarnya sudah sama dengan pembunuhan itu sendiri. Ini mengingat ada sesuatu yang dirampas dari anak, yakni harga diri dalam usia yang masih amat muda.

Bandingkan dengan eksibisionisme, yakni perilaku orang yang senang memperlihatkan alat kelamin, khususnya kepada wanita, dan memperoleh kepuasan seksual. Jika ditimbang-timbang, perilaku eksibisionistik itu tidak membahayakan nyawa wanita yang melihatnya.

Tetapi, menurut pengakuan wanita yang pernah menjadi korban, rasanya sudah seperti mati saja. Perasaan terhina, jijik, dan kotor jelas muncul pada mereka.

Menyadari bahwa dari setiap seribu orang terdapat satu penderita gangguan ini, maka perhatian serius harus diberikan. Yang terjadi, pada umumnya sebaliknya. Penderita diolok-olok dan dihina, sehingga gangguan makin lama makin berat.

Para paedhophil atau penyuka anak, misalnya, hampir tidak ada yang ujug-ujug begitu, namun semua butuh proses intens bertahun-tahun.

Jika dewasa ini, semua orang seperti memberikan perhatian luar biasa pada pelaku kejahatan seksual perkosaan, sehingga kemudian memperoleh label baru yakni "kejahatan luar biasa", maka perhatian serupa seyogyanya diberikan untuk gangguan ini.

Pada penderita gangguan ini, sekali lagi, tidak ada korban mati atau korban yang diperlakukan secara sadis. Namun, secara moral dan mental, sebenarnya para korban (khususnya korban anak atau manula) sudah mengalami kematian perdata.

Perhatian yang diharapkan terkait gangguan ini yang jelas bukan terkait hukuman bagi penderitanya. Hukuman berat, apalagi sampai dikebiri segala, hanya akan membuat penderitanya semakin menderita. Sudah sang korban menderita, pelakunya juga tak kalah menderita (karena makin lama gangguan perilakunya makin menjadi-jadi).

Munculnya perhatian masyarakat agar mencegah para pelaku beraksi, serta dukungan bagi mereka untuk mengubah perilaku melalui berbagai pelatihan, adalah dukungan yang diharapkan. Dengan begitu, para penderita terhindar dari ancaman hukum karena telah berperilaku tidak senonoh, sekaligus yang bersangkutan dilatih untuk lepas dari kecenderungan buruk tersebut.

Ya, berbeda dengan penyakit ketubuhan di mana penderita harus meminum obat, maka pada konteks ini, obatnya berupa latihan. Secara perlahan-lahan namun kontinyu, perilaku buruk terkait seksual itu dialihkan ke dalam bentuk yang lebih konvensional.

Sengkarut Timur Tengah




Sejak meletusnya revolusi Arab atau yang lebih dikenal dengan terma "Arab Spring" Desember 2010 dan awal 2011, dunia Arab terus bergolak hingga hari ini. Dibanding reformasi di Indonesia tahun 1998, Arab Spring boleh dibilang tidak berjalan mulus, bahkan gagal, serta diambang kebangkrutan. 

Arab Spring menarik untuk dicermati, selain karena terjadi secara tiba-tiba, revolusi ini diseru bukan dari masjid, tetapi dari pasar, bukan oleh aktor intelektual dan kaum profesional dari kelas menenagah atas (upper middle class) seperti umum terjadi, tetapi oleh kaum muda yang sebagian besar jobless. Bassam Tibi, intelektual asal Suriah yang kini menetap di Jerman, malah menyebut mereka sebagai "leaderless young group." (Bassam Tibi, The Sharia State: Arab Spring and Democratization, 2014).

Revolusi yang semula diharapkan membawa angin segar bagi tumbuhnya demokrasi dan kehidupan politik yang lebih beradab, kini berubah justru menjadi konflik dan perang saudara (civil war) yang berkepanjangan, bak benang kusut yang tak bisa diurai ujung pangkalnya.

Mc Millan (2015) menyebut konflik di kawasan MEANA (Middle East And Nourth Africa) ini tak ubahnya labirin, goa hantu, yang selain menakutkan, juga membuat orang-orang yang terjebak di dalamnya, tak mudah menemukan titik terang atau jalan keluar. (Mc Millan, From the First World War to the Arab Spring: 2015).

Sengkarut konflik politik di Timur Tengah pasca Arab spring, pada hemat penulis, ikut diperparah oleh tiga faktor. Pertama, munculnya Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) pada 2013.  NIIS memiliki kekuatan-kekuatannya sendiri, selain kelemahan-kelemahannya. Di antaranya, (1). NIIS memiliki "tanah air" di sebagian wilayah Irak dan Suriah yang dikuasai. (2). NIIS memiliki kekayaan yang melimpah dari ladang-ladang minyak dan sebagian dari bantuan negara-negara Teluk yang kaya, sehingga tidak sulit bagi NIIS untuk merekrut anggota baru dan memperkuat persenjataan, dan (3), dan ini yang juga penting, NIIS tampil pada saat yang tepat (the truth moment), di kala negara-negara Arab sedang gonjang-ganjing dan sedang mencari bentuk, akibat terpaan angin kencang Arab Spring.

Kedua, adanya intervensi dan masuknya kekuatan-kekuatan asing di Timur Tengah secara umum dan Suriah secara khusus. Dalam konflik Suriah saat ini, intervensi asing ini terasa makin kuat dengan spektrum yang semakin luas pula baik dilihat dari geopolitik, geo-strategi, maupun geo-ekonomi. Secara geopolitik, konflik Suriah tidak mudah diurai, lantaran terkait langsung dengan persoalan rivalitas Suni-Syiah di satu pihak, dan rivalitas Barat dengan RUC (Rusia dan China) di lain pihak. Di sini kita menyaksikan, berbagai kekuatan eksternal saling berkompetisi untuk menanamkan pengaruhnya, mulai dari Liga Arab, Amerika Serikat, Israel, Uni Eropa, Turki, Rusia, China, dan Iran dengan agenda kepentingan nasionalnya masing-masing.
     
Ketiga, selain kedua faktor di atas, perseteruan Arab Saudi dan Iran ikut memperburuk sengkarut politik di Timteng saat ini. Arab Saudi, sebagai penjaga dan pengawal dua Tanah Suci, Makkah dan Madinah, menempatkan dirinya sebagai imam negeri-negeri Sunni. Sementara Iran, pasca suskes revolusi tahun 79, menobatkan dirinya sebagai imam negeri Syiah. Seperti diketahui, Sunni merupakan kelompok mayoritas, sedangkan Syiah merupakan kelompok minoritas. Penguasa-penguasa Islam sepanjang sejarah berasal dari kelompok Sunni, baik pada masa pemerintahan Bani Uamayyah, Bani Abbas, maupun pada Kerajaan Turki Usmani. Kaum Syiah sempat berkuasa hanya pada pemerintahan Bani Fatmah (Dinasti Fatimiyah) di Mesir antara tahun 909 - 1172 M, lalu di Iran modern sekarang sejak 1979.

Namun, sejak tumbangnya Saddam Hossen dan jatuhnya Baghdad ke-2, oleh  Amerika dan sekutu, tahun 2004, kekuasaan Syiah makin meluas. Tak hanya Iran, tetapi juga Irak, Suriah, dan Lebanon (Selatan). Dikabarkan, untuk memperkuat pengaruhnya di Timteng, Iran membentuk dan memperkuat poros baru, yaitu: Iran, Irak, Suriah dan Libanon. Belum lagi, dengan tumbangnya Presiden Yaman, Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang didukung Arab Saudi, oleh milisi Syiah Houthi, maka tak lama lagi, Yaman akan menjadi negeri Syiah. Bagi Arab Saudi, secara geopolitik, Yaman adalah benteng terakhir pertahanan Sunni. Dari sisi ini, bisa dimengerti mengapa Arab Saudi seperti panik, ngotot, dan membombardir milisi Syiah Houthi di Yaman tanpa malu-malu.

Serangan Arab Saudi ke Yaman, sesungguhnya dapat dimaknai sebagai "perang terbuka" antara Arab Saudi dan Iran. Ini amat berbahaya, apalagi bila "provokasi" Arab Saudi berhasil mempengaruhi dan menarik negeri-negeri Islam (Sunni) yang lain. Ini akan menimbulkan polarisasi yang akan menyeret umat Islam saling berhadap-hadapan satu dengan yang lain, dan akan memperbesar konflik sektarian Sunni-Syiah yang berkepanjangan.

Rekonsiliasi dan demokratisasi
Lantas, strategi apa yang dapat dipilih sebagai solusi alternatif menjawab sengkarut konflik politik di Timteng? Beberapa pakar, seperti Pernille Rieker dan Henrik Thune (2016), mengusulkan srategi damai melalui negosiasi dan dialog sebagai resolusi konflik. Tokoh lain, yaitu  Carlo Panara dan Gary Wilson (2013), mengusulkan strategi rekonsiliasi dengan cara berbagi peran antara militer dan kubu Islamis yang selama ini terus baku hantam. Sementara tokoh-tokoh lain, termasuk John L Esposito dan John Obert Voll, merekomendasi penyelesaian konflik politik di Timteng, pasca Arab Spring, melaui strategi demokratisasi. (John L Esposito, Et. All, The Arab Spring: New Patterns for Democracy and International Law, 2016).

Diakui, salah satu isu penting yang mengemuka dari peristiwa Arab Spring adalah pertanyaan, apakah Islam kompatibel dengan demokrasi? Apakah demokrasi dapat menjadi jalan terbaik mengatasi sengkarut konflik politik di Timteng?

Sebagian pakar meragukan dan pesimistis. Dalam banyak riset, disimpulkan, Islam justru dipandang sebagai pendorong otoritarianisme Arab (Rothstein, 2011 dan Chenny, 2012). Kesimpulan yang sama dikemukakan oleh Kuru, 2014 dan  Van Hoorn, 2013. Sejumlah 2/3 penduduk Mesir memilih pemerintahan seperti Arab Saudi ketimbang Turki. Dari vedio yang diputar NIIS, tidak semua pemuda Mesir yang terpelajar dan melek IT, setuju dan pro demokrasi.

Namun, tidak sedikit pula pakar yang bersikap optimistik. Sikap ini didasarkan pada kecenderungan baru pada era globalisasi yang menyemburkan gerakan liberalisasi dan demokratisasi saat ini. Inilah demokrasi gelombang keempat (the fourth wave democracy) yang diramalkan Huntington akan menyapu seluruh negeri/bangsa di dunia, tak terkecuali negeri-negeri Arab dan Afrika Utara.

Beberapa hasil studi memperkuat pendapat yang optimistik ini. Penelitian yang dilakukan John L Esposito terhadap enam negeri Islam, meliputi Algeria, Mesir, Sudan, Iran, Pakistan, dan Malaysia, menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada kontradiksi antara Islam dan demokrasi. Dengan kata lain, Islam sejalan dan kompatibel dengan demokrasi. Studi lebih luas dan dalam dilakukan oleh Gallup terhadap 25 negeri Islam (2001 dan 2007) dengan kesimpulan yang sama: Islam sebangun dengan demokrasi.

Mungkin fakta ini yang menjadi dasar Zaid al-Elaimy, tokoh pro demokrasi asal Mesir, yang menyatakan bahwa demokrasi di Timteng akan terus bergerak. Meski Arab Spring gagal dan tak bisa mengakhiri otoritarianisme Arab, al-Elaimy menegaskan bahwa gerakan pro demokrasi akan terus bergulir. 

Disadari, demokratisasi di tanah Arab ini tidak mudah, bahkan terjal dan berliku. Menurut Ali Kadri (2016), demokratisasi Arab akan berhasil dengan prasyarat-prasyarat khusus. Pertama, demokratisasi harus mampu menciptakan institusi politik yang representative, accountable dan transparan, serta menjamin hak-hak politik rakyat. Kedua, memastikan konsolidasi proses demokrasi berjalan baik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi, memperbesar kesempatan kerja, dan mengurangi pengangguran. Ketiga, secara bertahap, gerakan demokratisasi harus bisa mengeliminasi elemen-elemen otoritarianisme yang selama ini menghadang demokratisasi.

Jika berbagai persyaratan ini dipenuhi, Ali Kadri yakin, proses demokrasi di tanah Arab akan bejalan smooth. Baginya, ini hanya soal waktu, bukan substansi. Semoga saja demikian! Wallahu a`lam!

A Ilyas Ismail
Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Dekan FAI UIA Jakarta

Lebih Asyik Berbincang via Smartphone




Kalau dompet ketinggalan, masih bisa pinjam uang ke teman lain. Namun, kalau smartphone yang ketinggalan, sulit mencari ganti untuk berbincang dengan lawan bicara di seberang sana. Selain itu, tak membawa gawai berarti tak bisa menikmati topik hangat yang sedang diperbincangkan di grup dan tak bisa ikut berkomentar menanggapi.

Inilah salah satu gambaran kedekatan masyarakat saat ini dengan alat komunikasi yang dimiliki yang seolah tidak bisa terpisahkan dari smartphone, tablet, dan sejenisnya. Seiring dengan perkembangan teknologi, semakin banyak aktivitas yang memanfaatkan gawai, salah satunya kegiatan berkomunikasi dengan individu lain.

Jalur komunikasi yang mengandalkan internet kini memang semakin dikenal luas oleh masyarakat, tak terkecuali di Indonesia. Dahulu berkirim pesan hanya bisa dengan short message service (SMS), lalu muncul Blackberry messenger. Kemudian, aplikasi seperti Whatsapp, Skype, LINE, Kakao, Telegram, dan lainnya bermunculan. Dalam aplikasi-aplikasi zaman sekarang, pengguna tidak hanya dapat berkomunikasi secara teks dengan lawan bicaranya, tetapi juga dapat saling mengirimkan dokumen, foto, suara, bahkan bertelepon lewat platform tersebut.

Jajak pendapat yang diadakan Litbang Kompas menunjukkan tingginya minat masyarakat, terutama yang tinggal di perkotaan, untuk berbincang lewat aneka aplikasi di gawai yang didukung dengan internet. Sebanyak lima dari sepuluh responden di 12 kota besar di Indonesia, baik perempuan maupun laki-laki, kini lebih memilih berkomunikasi lewat teks di smartphone, tablet, desktop dengan bantuan Whatsapp, LINE, Skype, Facebook, Path, dan lainnya. Apalagi, tak ada biaya khusus untuk memakai aplikasi-aplikasi ini, cukup membayar biaya internet.

Aplikasi untuk berbincang

Tak hanya di Indonesia, aplikasi untuk berbincang juga diminati di level global. Menurut Statistika.co.id pada Februari 2016 lebih dari 1 miliar pengguna Whatsapp yang aktif, naik dari sekitar 700 juta pada Januari 2015. Aplikasi layanan pesan instan untuk smartphone yang mengandalkan internet untuk transmisi pesan ini memungkinkan penggunanya berbagi pesan teks, gambar, dan video. Saat ini, Whatsapp menangani lebih dari 600 juta foto dan 64 miliar pesan setiap hari.

Sementara itu, LINE di seluruh dunia pada kuartal pertama 2016 memiliki lebih dari 218 juta pengguna aktif. Aplikasi ini dikembangkan oleh para insinyur NHN di Jepang untuk menanggapi infrastruktur telekomunikasi yang rusak pascagempa Tohoku dahsyat pada Maret 2011. Awalnya, perangkat lunak ini dijadikan saluran komunikasi alternatif internal perusahaan. Akhirnya, aplikasi ini dibebaskan untuk digunakan masyarakat umum akhir 2011. Meskipun diprioritaskan untuk dipasang di smartphone dan komputer tablet, versi untuk komputer pribadi juga disediakan oleh pihak produsen. Selain bertukar pesan, LINE juga mampu mengemban fungsi pertukaran foto, video dan pesan audio, serta melakukan secara gratis Voice over Internet Protocol (VoIP) percakapan dan konferensi video, serta permainan. Pada 2012, LINE berkembang menjadi jaringan sosial, dengan fitur serupa dengan Facebook.

Ada juga aplikasi KakaoTalk. Jumlah pengguna aktif KakaoTalk di seluruh dunia pada akhir 2015 mencapai 48,32 juta. pengguna aktif di seluruh dunia. Sekarang muncul aplikasi Telegram yang telah memiliki lebih dari 100 juta pengguna aktif. Setiap hari sekitar 350.000 pengguna baru mendaftar Telegram.

Grup diminati

Jika percakapan dua orang saja seru, apalagi jika berbincang-bincang dengan teman ataupun kerabat. Fasilitas grup yang disediakan aplikasi chatting pun digemari. Berdiskusi tentang topik hangat dan berbagi informasi bisa dilakukan dengan sekelompok orang yang diinginkan tanpa harus beranjak dari kursi. Tidak ada lagi kendala jarak untuk berkomunikasi dengan mereka yang berbeda negara. Perbedaan bahasa antaranggota grup pun tidak lagi menjadi kendala karena adanya sarana penerjemah bahasa.

Hampir 60 persen responden mengaku memiliki grup di dalam aplikasi chatting yang ada di smartphone, tablet, dan komputer mereka. Jika gawainya diintip, sebagian besar dari kelompok ini terlibat dalam satu hingga lima grup. Bahkan, ada yang mengaku terdaftar dalam lebih dari 10 grup. Hal yang menarik, semakin tinggi latar belakang pendidikan responden, semakin banyak mereka terdaftar dalam grup.

Banyak yang bisa dibicarakan di dalam grup. Bagi warga yang bekerja, baik berstatus karyawan maupun wirausaha, topik yang kerap diperbincangkan adalah aneka hal yang terkait dengan pekerjaan. Sementara itu, bagi ibu rumah tangga, pensiunan, dan pelajar, topik yang menyangkut keluarga lebih ramai dibicarakan. Selain itu, topik pertemanan juga tak jarang muncul di dalam grup.

Menggeser cara konvensional

Komunikasi interpersonal, menurut EM Griffin, merupakan komunikasi dua orang yang mengikuti aturan-aturan yang telah ditentukan dalam bertukar pesan. Komunikasi interpersonal terjadi dalam interaksi tatap muka atau secara langsung. Komunikasi tatap muka dilakukan secara real time dan ruang yang nyata, atau pendeknya bertemu secara fisik.

Dalam proses komunikasi tatap muka, kedua pihak akan saling menyampaikan informasi dalam bentuk verbal dan nonverbal sehingga dapat menjalin hubungan, dan kesalahpahaman dapat dihindari. Pada saat itu terjadi tatap muka langsung yang menyebabkan pelaku komunikasi melihat respons lawan bicara dan ekspresinya, dan lebih dapat memilih kata-kata yang akan diucapkan.

Perkembangan teknologi yang ada dalam gawai ternyata menggeser prinsip dalam komunikasi interpersonal yang mensyaratkan tatap muka. Saat ini masyarakat di kota-kota besar di negeri ini menilai komunikasi interpersonal yang dilakukan lewat alat komunikasi digital mampu menggantikan komunikasi interpersonal dengan tatap muka. Tujuh dari sepuluh responden mengatakan, komunikasi yang mereka lakukan secara teks lewat berbagai aplikasi yang mengandalkan jaringan internet bahkan sudah efektif. Komunikasi yang dibantu teknologi ini dianggap sudah mempermudah mereka tanpa terkendala jarak dan ruang. Apalagi, masalah kecepatan pengiriman tak lagi menjadi kendala.

Meski semakin memudahkan, kehati-hatian dalam berkomunikasi lewat aplikasi dan gawai harus tetap dikedepankan. Ada saja orang-orang yang tak bertanggung jawab memanipulasi identitas untuk aneka tujuan yang negatif. Selain itu, terlalu asyik berbincang dengan orang ataupun grup lewat aplikasi juga bisa merusak produktivitas dan mengabaikan orang-orang terdekat. Berbincang lewat aplikasi seharusnya mampu mendekatkan yang jauh tanpa menjauhkan yang dekat.

Wednesday, March 23, 2016

Mahasiswi Jurnalistik UIN Bandung Pimpin LPM Suaka

sumber: instagram.com/lpmsuaka_
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suaka merupakan unit kegiatan mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

LPM Suaka terbilang cukup aktif di antara pers mahasiswa lainnya di Bandung. Produk jurnalistik yang dihasilkan LPM Suaka terus beredar sesuai dengan waktunya.


Produk LPM Suaka di antaranya, majalah yang terbit tiap tahun, tabloid yang terbit tiap bulan, dan situs daringnya yang selalu diperbaharui setiap hari.


Di balik semua produk jurnalistik Suaka yang beredar, ada seorang mahasiswi yang bertanggung jawab atas keredaksian produk tersebut. Isthiqonita namanya. Seorang mahasiswi semester 6 Jurnalistik UIN Bandung.


Di pimpin oleh seorang perempuan bukan hal yang tabu bagi LPM Suaka. 


Di saat perempuan masih dipandang sebelah mata di beberapa bagian dunia, keredaksian LPM Suaka sudah beberapa kali dipimpin oleh perempuan. LPM Suaka menunjukan pada kita betapa indahnya kesetaraan. 


Hal ini di akui salah satu ranger (sebutan untuk anggota) Suaka, Nuru Fitry. Baginya tidak ada perbedaan di bawah kepemimpinan seorang lelaki atau pun perempuan.


Isthiqonita, dalam satu kesempatan menyatakan, hanya terdapat satu persoalan dalam penunjukkan dirinya sebagai pimpinan redaksi LPM Suaka. 


Isthiqonita mengatakan dirinya, tidak bisa maksimal dalam menemani redaktur artistik mengatur tata letak produk jurnalistik LPM Suaka.


Mengatur tata letak bukan lah hal mudah. Membutuhkan kesabaran dan waktu yang tidak sedikit untuk menyatukan keinginan beberapa orang. 


Karena mengatur tata letak yang tidak mudah, terkadang seorang pimpinan redaksi harus menghabiskan malam bersama redaktur artistik untuk mengerjakan tata letak bersama. Ini yang menjadi persoalan.


Indekos khusus putri di sekitar UIN Bandung memiliki jam 'operasional' tersendiri. Mayoritas pukul 22.00 gerbang sudah dikunci. Tidak boleh masuk-keluar lagi. Selain itu, norma-norma yang berlaku di masyarakat juga melarang perempuan pulang larut malam. Dengan alasan apapun. 


Mungkin hanya hal di atas yang menjadi kekurangan dari seorang pimpinan redaksi perempuan.

Wednesday, July 23, 2014

UIN Sunan Gunung Djati Kampusnya Orang Sunda



Setelah disahkan pada Peraturan Presiden RI No. 57 Tahun 2005, tepat pada 10 Oktober 2005, IAIN Sunan Gunung Djati naik tingkat menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati. Yang mana hal ini menjadikan kampus UIN diminati tidak hanya oleh pelajar lokal, beberapa daerah di Indonesia juga mulai melirik universitas yang terletak di Jalan A.H. Nasution Nomor 105 ini. Karena mulai banyak mahasiswa yang berasal dari luar priyangan, seharusnya bahasa yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari di kampus ini menggunakan bahasa persatuan bangsa ini, Bahasa Indonesia. Tapi bagaimana kenyataannya pada saat ini?

Sejak setahun lalu, saya menuntut ilmu di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) di Bandung. Kebetulan saya diterima melalui seleksi nasional, SBMPTN, dengan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik. Seperti biasa, saat memasuki suatu lingkungan, kita terlebih dahulu melalui masa-masa orientasi. Di UIN, khususnya di jurusan Jurnalistik, saya merasakan dua kali ospek. Ospek universitas yang diadakan oleh Dewan Mahasiswa UIN SGD dan ospek jurusan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurnalistik.


Pada angkatan saya, angkatan 2013, ospek universitas yang diadakan oleh Dewan Mahasiswa UIN SGD diberi nama OPAK. Singkatan dari Orientasi Pengenalan Akademik. Namun untuk angkatan 2014, namanya ditambahkan menjadi: Ta'aruf dan OPAK. UIN banget ya. Seluruh mahasiswa baru dari seluruh prodi wajib mengikuti acara ini. Karena sertifikat dari acara ini menjadi syarat untuk mengikuti ujian komprehensif nanti. Terpaksa lah ikut. Anehnya, kegiatan ini bayar lagi. Beda sama uang yang dibayarkan ke kampus.

Saat saya mengikuti kegiatan ini, saya sedikit kesulitan untuk menemukan mahasiswa yang sekultur dengan saya, Bekasi. Banyak sekali orang yang berbahasa sunda di sana. Hampir setiap gerombolan mahasiswa yang saya temui berbahasa sunda. Bahkan presenternya terkadang menggunakan Bahasa Sunda. Aku 'terasingkan'. Lucunya, saya berharap gerombolan yang saya temui itu bukan mahasiswa Jurnalistik. Jujur, saya orang yang kurang bisa beradaptasi dengan cepat. Dan pastinya, saya akan semakin lambat untuk beradaptasi karena hal ini. Sayangnya, saya salah. Ternyata teman sekelas saya banyak yang orang sunda. Ada yang berasal dari Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Majalengka, Indramayu, Sumedang, dan Bandung. Hanya saya dan lima mahasiswa lain yang non-Sunda. 

Dalam keseharian, kebanyakan mahasiswa UIN terlihat lebih nyaman menggunakan Bahasa Sunda dari pada Bahasa Indonesia. Misalnya, kelas saya. Di grup bbm, entah sengaja atau tidak, mereka sering menggunakan Bahasa Sunda. Alhasil, saya harus menggunakan jasa google untuk mengartikan perbicaraan mereka. Kalau saya sedang tidak dalam mood yang baik, biasanya saya membalas dengan Bahasa Sunda yang asal-asalan. Tidak hanya mahasiswa. Dosen pun tidak jarang menggunakan bahasa sunda di kelas. Biasanya dalam menjelaskan suatu perkara, dosen menggunakan istilah-istilah berbahasa sunda. Terkadang saya harus telat tertawa jika dosen memberikan joke-joke berbahasa sunda.

Saya bingung dengan lingkungan yang seperti ini. Haruskah saya menggunakan Bahasa Sunda dalam keseharian saya? Atau haruskah mereka yang meninggalkan bahasa tradisional mereka untuk menyambut dunia yang sudah modern seperti saat ini? 


Jika dibandingkan dengan kultur yang ada di universitas lain seperti Telkom University atau Universitas Padjajaran, teman saya bercerita, jarang ditemukan orang yang berbahasa sunda dalam berkomunikasi sehari-hari. Orang-orang sunda yang berkuliah di universitas tersebut, di kampus menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Hanya menggunakan Bahasa Sunda ketika tidak ada orang non-sunda di sekelilingnya. Sederhananya, ketika mereka (orang-orang sunda) mengobrol satu dengan yang lainnya, lalu ada orang non-sunda yang datang menghampiri, mereka langsung mengubah bahasa pengantarnya dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Mereka menghargai etnis lain di luar sunda. Berbeda dengan yang terjadi di kampus saya. 


Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan budaya berbahasa sunda di kampus UIN SGD Bandung. Yang perlu diperhatikan oleh mahasiswanya, etnis di dunia ini tidak hanya sunda. Hanya saja, kita memiliki Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Tertulis dengan jelas pula di poin ketiga dalam sumpah pemuda. Apabila mahasiswa merasa malu menggunakan Bahasa Indonesia, masih ada Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Saya berfikir, mungkin kebanyakan mahasiswa UIN SGD Bandung menggunakan Bahasa Sunda di dalam kesehariannya di rumah. Sehingga kebiasaan tersebut terbawa sampai kampus. Tetapi menurut saya, ada baiknya bahasa tradisional tersebut ditinggalkan sejenak ketika kalian memasuki lingkungan baru yang sifatnya heterogen.

UIN Sunan Gunung Djati Bandung sudah menjadi universitas, tidak lagi sebagai institut seperti tahun 2005 kebelakang. Mahasiswa yang mendaftar di UIN juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia, ada baiknya dalam keseharian kita menggunakan Bahasa Indonesia atau pun Bahasa Inggris. Saya juga menyarankan kepada pihak kampus, apabila UIN Sunan Gunung Djati Bandung ingin secara sah mengidentitaskan kampus ini sebagai kampusnya orang sunda, ada baiknya cantumkan di website kalau kampus ini memang dikhususkan untuk orang-orang sunda. Atau pihak kampus juga bisa berikan kursus berbahasa sunda terlebih dahulu kepada mahasiswa yang berasal dari daerah yang non-sunda.