Wednesday, July 23, 2014

UIN Sunan Gunung Djati Kampusnya Orang Sunda



Setelah disahkan pada Peraturan Presiden RI No. 57 Tahun 2005, tepat pada 10 Oktober 2005, IAIN Sunan Gunung Djati naik tingkat menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati. Yang mana hal ini menjadikan kampus UIN diminati tidak hanya oleh pelajar lokal, beberapa daerah di Indonesia juga mulai melirik universitas yang terletak di Jalan A.H. Nasution Nomor 105 ini. Karena mulai banyak mahasiswa yang berasal dari luar priyangan, seharusnya bahasa yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari di kampus ini menggunakan bahasa persatuan bangsa ini, Bahasa Indonesia. Tapi bagaimana kenyataannya pada saat ini?

Sejak setahun lalu, saya menuntut ilmu di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) di Bandung. Kebetulan saya diterima melalui seleksi nasional, SBMPTN, dengan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik. Seperti biasa, saat memasuki suatu lingkungan, kita terlebih dahulu melalui masa-masa orientasi. Di UIN, khususnya di jurusan Jurnalistik, saya merasakan dua kali ospek. Ospek universitas yang diadakan oleh Dewan Mahasiswa UIN SGD dan ospek jurusan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurnalistik.


Pada angkatan saya, angkatan 2013, ospek universitas yang diadakan oleh Dewan Mahasiswa UIN SGD diberi nama OPAK. Singkatan dari Orientasi Pengenalan Akademik. Namun untuk angkatan 2014, namanya ditambahkan menjadi: Ta'aruf dan OPAK. UIN banget ya. Seluruh mahasiswa baru dari seluruh prodi wajib mengikuti acara ini. Karena sertifikat dari acara ini menjadi syarat untuk mengikuti ujian komprehensif nanti. Terpaksa lah ikut. Anehnya, kegiatan ini bayar lagi. Beda sama uang yang dibayarkan ke kampus.

Saat saya mengikuti kegiatan ini, saya sedikit kesulitan untuk menemukan mahasiswa yang sekultur dengan saya, Bekasi. Banyak sekali orang yang berbahasa sunda di sana. Hampir setiap gerombolan mahasiswa yang saya temui berbahasa sunda. Bahkan presenternya terkadang menggunakan Bahasa Sunda. Aku 'terasingkan'. Lucunya, saya berharap gerombolan yang saya temui itu bukan mahasiswa Jurnalistik. Jujur, saya orang yang kurang bisa beradaptasi dengan cepat. Dan pastinya, saya akan semakin lambat untuk beradaptasi karena hal ini. Sayangnya, saya salah. Ternyata teman sekelas saya banyak yang orang sunda. Ada yang berasal dari Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Majalengka, Indramayu, Sumedang, dan Bandung. Hanya saya dan lima mahasiswa lain yang non-Sunda. 

Dalam keseharian, kebanyakan mahasiswa UIN terlihat lebih nyaman menggunakan Bahasa Sunda dari pada Bahasa Indonesia. Misalnya, kelas saya. Di grup bbm, entah sengaja atau tidak, mereka sering menggunakan Bahasa Sunda. Alhasil, saya harus menggunakan jasa google untuk mengartikan perbicaraan mereka. Kalau saya sedang tidak dalam mood yang baik, biasanya saya membalas dengan Bahasa Sunda yang asal-asalan. Tidak hanya mahasiswa. Dosen pun tidak jarang menggunakan bahasa sunda di kelas. Biasanya dalam menjelaskan suatu perkara, dosen menggunakan istilah-istilah berbahasa sunda. Terkadang saya harus telat tertawa jika dosen memberikan joke-joke berbahasa sunda.

Saya bingung dengan lingkungan yang seperti ini. Haruskah saya menggunakan Bahasa Sunda dalam keseharian saya? Atau haruskah mereka yang meninggalkan bahasa tradisional mereka untuk menyambut dunia yang sudah modern seperti saat ini? 


Jika dibandingkan dengan kultur yang ada di universitas lain seperti Telkom University atau Universitas Padjajaran, teman saya bercerita, jarang ditemukan orang yang berbahasa sunda dalam berkomunikasi sehari-hari. Orang-orang sunda yang berkuliah di universitas tersebut, di kampus menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Hanya menggunakan Bahasa Sunda ketika tidak ada orang non-sunda di sekelilingnya. Sederhananya, ketika mereka (orang-orang sunda) mengobrol satu dengan yang lainnya, lalu ada orang non-sunda yang datang menghampiri, mereka langsung mengubah bahasa pengantarnya dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Mereka menghargai etnis lain di luar sunda. Berbeda dengan yang terjadi di kampus saya. 


Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan budaya berbahasa sunda di kampus UIN SGD Bandung. Yang perlu diperhatikan oleh mahasiswanya, etnis di dunia ini tidak hanya sunda. Hanya saja, kita memiliki Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Tertulis dengan jelas pula di poin ketiga dalam sumpah pemuda. Apabila mahasiswa merasa malu menggunakan Bahasa Indonesia, masih ada Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Saya berfikir, mungkin kebanyakan mahasiswa UIN SGD Bandung menggunakan Bahasa Sunda di dalam kesehariannya di rumah. Sehingga kebiasaan tersebut terbawa sampai kampus. Tetapi menurut saya, ada baiknya bahasa tradisional tersebut ditinggalkan sejenak ketika kalian memasuki lingkungan baru yang sifatnya heterogen.

UIN Sunan Gunung Djati Bandung sudah menjadi universitas, tidak lagi sebagai institut seperti tahun 2005 kebelakang. Mahasiswa yang mendaftar di UIN juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia, ada baiknya dalam keseharian kita menggunakan Bahasa Indonesia atau pun Bahasa Inggris. Saya juga menyarankan kepada pihak kampus, apabila UIN Sunan Gunung Djati Bandung ingin secara sah mengidentitaskan kampus ini sebagai kampusnya orang sunda, ada baiknya cantumkan di website kalau kampus ini memang dikhususkan untuk orang-orang sunda. Atau pihak kampus juga bisa berikan kursus berbahasa sunda terlebih dahulu kepada mahasiswa yang berasal dari daerah yang non-sunda.

0 comments: