Tuesday, May 17, 2016

Diejek di Sekolah Karena Miskin




Bagi Haristan (35) dan Kismiati (40), pendidikan merupakan hal utama. Dalam kondisi hidup yang sangat miskin, mereka tetap berusaha menyekolahkan anaknya.

Dengan nada datar, Haristan mengatakan, dari tiga anaknya, satu di antaranya sudah mulai mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar di Kecamatan Taba Penanjung. Untuk biaya sekolah sang anak, Harnistan harus banting tulang dengan bekerja serabutan.

Haristan juga mengaku sedih anaknya kerap menjadi bahan ejekan teman-teman di sekolahnya, sebab kerap menunggak uang sekolah selama beberapa bulan. Selain itu, anaknya juga kerap hanya membawa buku tulis yang hanya berisi tiga lembar kosong.

"Biaya sekolah anak saya itu sebenarnya tidak ada dan sering kali uang SPP-nya menunggak sampai beberapa bulan. Terkadang anak saya sering menjadi ejek-ejekan temannya, karena buku tulis miliknya hanya berisi tiga lembar yang kosong," beber Haristan didampingi sang istri Kismiati.

Banyaknya pemberitaan soal kebijakan pemerintah mengenai bantuan untuk warga miskin, Harnistan mengaku tidak mengetahuinya. Bahkan, dia mengaku tidak pernah menerima bantuan dari Pemerintah Daerah Bengkulu Tengah. Baik itu, dana Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) hingga program pemerintah lainnya.

"Kalau ada yang minta bantuan seperti membersihkan kebun, ya saya lakukan. Kalau ada yang ajak bekerja bangunan ya juga ikut itu pun tidak ada setiap hari," jelasnya lagi.

Ditemui terpisah, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Lubuk Sini, Bambang, mengakui jika perekonomian pasutri Haristan dan Kismiati sangat memprihatinkan. Ia mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pasutri hanya mengandalkan upahan dari warga yang meminta pertolongan.

"Dia itu tidak ada pekerjaan tetap. Kalau lagi ada proyek bangun rumah Haristan diajak untuk ikut bekerja. Kadang kalau ada warga yang meminta menebas rumput, warga juga mengajak dia. Pokoknya dia tidak ada pekerjaan tetap," tutur Bambang saat ditemui Okezone.

Ia menambahkan, dirinya sempat mengajukan kediaman Haristan untuk ikut bedah rumah. Sayangnya, hal tersebut sama sekali tidak bisa diterima. Selain itu, tambah dia, kediaman Haristan belum ada masuk aliran listrik. Sehingga untuk menerangi setiap malam keluarga itu hanya menggunakan lampu teplok.

"Kalau saya ada rezeki berlebih, maka saya kasih juga bantuan dengan keluarga Haristan," demikian terang Bambang.

Haristan (35) dan Kismiati (40), pasangan suami-istri warga Dusun I Desa Lubuk Sini, Kecamatan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, merupakan keluarga miskin. Selama ini mereka hidup penuh kesusahan. Bahkan untuk bertahan hidup, pasutri bersama tiga anaknya itu hanya mengonsumsi daun singkong dan kangkung sejak bertahun-tahun lalu.

0 comments: